Pembuatan Pupuk Kompos KKN 211 Desa Mengen Sebagai Bahan Media Pertumbuhan Tanaman

Jum’at, 27 Juli 2018 Mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dengan ditemani oleh Bapak Didit selaku PPL dari Kecamatan Tamanan melakukan pembuatan pupuk kompos yang bertempat di lahan kosong di samping TK Pertiwi VII yang dimiliki oleh Balai Desa Mengen Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso. Pembuatan pupuk kompos dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan organik yang didapatkan dari lingkungan masyarakat sekitar Desa Mengen. Dilihat dari potensi masyarakat Desa Mengen sendiri adalah dalam bidang pertanian seperti pertanian tanaman padi, tembakau, sawi, cabai dan lain-lainnya, bukan hanya pada tanamannya saja, potensi pertanian yang lainnya seperti peternakan juga menjadi salah satu potensi dari bidang pertanian masyarakat Desa Mengen. Diketahui adanya peternakan seperti ayam, sapi dan kambing ternyata membuat adanya suatu hasil limbah yang dihasilkan dari adanya hewan ternak tersebut yaitu adanya kotoran ternak. Adanya kotoran ternak tersebut yang menjadi limbah ternak dapat menggangu keadaan lingkungan berubah yaitu adanya pencemaran limbah ternak yang dibuang sembarangan oleh sebagian masyarakat Desa Mengen. Melihat adanya kondisi tersebut akhirnya oleh mahasiswa KKN dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk organik yaitu pupuk kompos. Bahan-bahan pendukung lainnya seperti jerami, serbuk kayu, arang sekam digunakan sebagai campuran untuk pembuatan pupuk kompos. Bahan-bahan tersebut digunakan karena di lingkungan masyarakat mudah didapatkan. Pupuk kompos sendiri merupakan pupuk organik yang dibuat sendiri oleh manusia dengan melalui proses pembusukan sisa-sisa bahan organik dari tanaman maupun hewan. Membuat kompos berarti mengatur dan mengontrol proses alami dari bahan-bahan organik tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Proses pembuatannya sendiri dimulai dari menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu yaitu seperti kotoran hewan yang tidak segar yaitu sudah menjadi hancur seperti tanah, serbuk kayu, arang sekam dan jerami. Kotoran hewan yang sudah disiapkan dan diratakan ditempat yang sudah disediakan. Jerami sebelum digunakan dipotong halus agar dalam proses fermentasi dapat digunakan sebagai bahan makanan (nutrisi) mikroorganisme. Bahan-bahan lainnya seperti serbuk kayu dan arang sekam serta potongan jerami dicampur menjadi satu dengan kotoran ternak ditambahkan air secukupknya serta EM4 sebagai biooktivator dalam proses fermetasi. Sebagai pupuk alami, keberadaan kompos terutama sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah, di samping untuk menyuplai unsur hara. Pupuk kompos yang sudah matang dapat langsung digunakan untuk tanaman. Tidak ada batasan baku berapa dosis kompos yang diberikan untuk tanaman. Secara umum lebih banyak kompos memberikan hasil yang lebih baik. Tetapi jika kompos akan digunakan untuk pembibitan atau untuk tanaman di dalam pot/polybag, kompos harus dicampur tanah dengan perbandingan 1: 3, satu bagian kompos dan tiga bagian tanah. Kompos dapat diberikan sebagai satu-satunya sumber hara tambahan atau lebih dikenal dengan istilah pertanian organik. Kompos yang diberikan sebaiknya dalam jumlah yang cukup, agar tanaman dapat tumbuh lebih baik.

Post Author: mengen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *